Bencana Situ Gintung adalah bencana yang seharusnya tak perlu terjadi bila fungsi pemerintah dalam mengayomi rakyat berjalan dengan benar. Benar dalam arti pemerintah memang bekerja demi kesejahteraan rakyatnya. Tetapi yang terjadi, para aparat pemerintah bekerjasama dengan DPR setiap tahun rajin menyusun anggaran. Semakin tahun anggaran tersebut semakin besar nominalnya. Tetapi sayang, sebagian besar anggaran tersebut hanya menjadi ajang korupsi dan memperkaya diri para aparat. Hanya sebagian kecil saja dari anggaran tersebut yang disalurkan untuk rakyat. Itupun juga masih dikorupsi.
Bukti nyatanya adalah bagaimana bobroknya manajemen pemerintah, terutama dalam hal menyediakan sarana dan prasarana bagi kehidupan rakyat. Jalan-jalan rusak, sungai kotor, banjir terus terjadi dan rumah untuk rakyat semakin tak terjangkau. Apalagi dalam hal pemeliharaan sarana dan prasarana tersebut, nol besar. Dana tetap dianggarkan. Tetapi memang untuk di (sekali lagi) korupsi.
Coba bayangkan, Situ Gintung yang dibangun pada tahun 1930an oleh Belanda, hingga kini tidak pernah direvitalisasi. Sudah jelas posisi Situ Gintung tersebut berada di atas lebih tinggi dari pemukiman warga, tetapi tanggulnya tetap dibiarkan berupa tanah. Tanggul tanah tidak akan bermasalah bila di sekitar Situ Gintung adalah sawah sperti saat pertama Situ Gintung dibangun oleh Belanda.
Setelah bencana yang menenggut lebih dari 80 nyawa dengan sia-sia tersebut terjadi, masihkah sikap pemerintah tidak berubah? Jawabannya pasti: Ya. Berapapun bencana ditimpakan kepada negri ini, Tsunami Aceh yang dahsyat sekalipun, takkan mampu mengubah perilaku aparat pemerintah. Karena korupsi tetap dan justru semakin meningkat intensitasnya. Bencana Situ Gintung terjadi juga karena korupsi yang merajalela.






Related posts:
![[BF] buck$freak [BF] buck$freak](http://bucksfreak.com/wp-content/uploads/2011/01/logo-bucksfreak4.png)







Posted in
Tags: 
